Rabu, 26 April 2017

MEMBAYAR KESELAMATAN

Astagfirullah...

Untuk lapar yang menyiksa, manusia rela tukar tenaga dengan kelelahan...

Untuk siksa rumah yg sesak, manusia rela korban waktu dengan keluarga tuk bekerja...

Untuk siksa cuaca yang panas, kita rela menukar rupiah hasil keringat kita dengan AC atau Kipas...

Untuk siksa dahaga, kita rela bayar dua kali lipat harga air...

Untuk siksa kegalauan, kita berani menghabiskan jutaan untuk belanja dan jalan-jalan...

Untuk siksa fisik yang tak sempurna, kita korbankan semua milik kita...

Namun...

Apa yang mampu kita tukar, berapa yang mampu kita bayar untuk keluar dari Siksa Allah???!!!

Apa yang bisa kita bayar untuk Siksa Su'ul Khatimah?

Apa yang bisa kita tukarkan untuk keluar dari siksa kubur?

Apa yang bisa kita bayarkan untuk Siksaan Allah di dunia berupa dicabutnya Kelezatan Iman...

Allah swt tak butuh kau persembahkan Dunia dan se-Isi-nya... [Surat Al-Maeda : 36]

Allah swt hanya minta...
- Taubatmu
- Istigfarmu
- kesungguhanmu mencari dan mengusahakan Iman
- keyakinanmu pada-Nya
- kejujuran dalam Iman dengan memperhatikan batasannya
-keseriusan dalam belajar mengenal-Nya...

Laa Haula wa Quwwata illa billah...

Penghasilan Materi kita adalah Rezki Allah yg hanya bisa didapat dengan Usaha...
Begitu pula Iman...
Aneh, bila harta materi kita "pas-pasan", kita setengah mati kerja dan usaha...
Tapi, saat tau bahwa Iman kita "pas-pasan"... kita maunya menunggu dan malas mengusahakan..

#Tadabbur surah Al-Maidah ayat 35-36..

cerdashati.heck.in/membayar-keselamatan.xhtml

Senin, 27 Maret 2017

DINAMIKA JALAN JUANG IBRAHIM DATUK TAN MALAKA

Hari ini (27/3) di DPR-RI diadakan Diskusi Publik dengan Tema *"Pemikiran dan Perjuangan Tan Malaka"*. Diskusi ini menghadirkan Fadli Zon selaku Wakil Ketua DPR-RI, Hary Poeze selaku pakar Belanda peneliti kehidupan Tan Malaka, Pak Iskandar, dan Datuk Henky selaku Raja Adat asal Tan Malaka.

Dimulai dari pemaparan *Fadli Zon* yang menyatakan bahwa Tan Malaka menulis bukunya _Nar de Republik_ tahun 1926, itu sekitar 5 tahunan sebelum Hatta maupun Soekarno menulis Indonesia Merdeka atau Indonesia Menggugat.

Bila Tan Malaka dikesankan sebagai penganut Komunis Marksisme, justru fakta sejarahnya, Tan Malaka mengkritik Gagasan Pemerintahan Diktator dari Marksisme itu. Tan justru mencita-citakan pemerintahan yang lebih Humanis.

Dengan semua pikir dan juang Tan, sangat disayangkan akhirnya ia dieksekusi oleh rakyat/pemerintahan negaranya sendiri pada 21 Februari 49. Entah karena salah paham atau sengaja. Wal hasil, Tan Malaka tidak menikmati buah hasil dari Pemikiran dan Perjuangannya.

Setelah paparan Fadli Zon, kesempatan Harry Poeze yang menuturkan beberapa watak Tan Malaka hasil meneliti kehidupannya. Ada 14 poin disebutkannya, namun tidak tersampaikan dengan cukup jelas.

Pertama adalah, bahwa Tan Malaka sebagai *orang Minangkabau*. Khas ini sangat melekat pada diri Tan, terlihat dari seringnya ia mengutip pepatah-pepatah Minangkabau.

Kemudian Tan, adalah sebagai *Perantau*, sebagaimana adat para lelaki Minangkabau yang lazimnya merantau untuk memperluas wawasan.

Kemudian Tan adalah sebagai *Guru*. Profesi ini berkali-kali dilakoninya bahkan di tempat pengasingannya di Cina dll, bahkan ini terlihat saat ia menjadi seorang pendiri Syarikat Islam School. Tan sangat senang mengajari para pemuda-pemuda dengan diskusi.

Lalu Tan jug adalah sebagai *Komunis Nasionalis*. Walau apa yang diyakini Tan sangat berbeda dengan apa yang kita pahami dari Komunis sekarang. Dalam sebuah Konferensi Internasional, Tan mengatakan "Islam mewakili kekuatan Revolusioner dan harus didukung".
Bahkan Tan banyak mendapat tuduhan-tuduhan dari pihak komunis sekuler.

Lalu Tan adalah sebagai *Ahli Filsafat* , ini terlihat jelas dalam bukunya _Madilog_.

Selanjutnya Tan adalah sebagai *Pemikir Islam*;

Jumat, 17 Maret 2017

Madrasah Fiqhiah Indonesia

NOT FOR SHARE

Hanya Untuk Peserta Session1 MFI

Alhamdulillah, Session 1 MFI berjalan dengan baik. Sebagaimana Ikhwah dapatkan, bahwa Ilmu Fiqih kita ini punya Tuntutan besar di kemudian hari.

In sya Allah, Kelas MFI akan berlanjut hingga 8 Session.

Tiap Rabu Malam (19.30-21.30) di As-Salam.

Tentu dengan materi-materi advance dari dan oleh Azatidz Praktisi Rumah Fiqih Indonesia, dibawah bimbingan Ust. Ahmad Sarwat, Lc, MA,

Menyadari bahwa Proses ini butuh ketekunan dan keseriusan, berikut kami undang Ikhwah (Peserta MFI session 1), untuk join di Group Kelas MFI ini silahkan Klik Tautan di bawah ini:

JOIN GROUP MFI

PERHATIAN
Tentang Group

¤ Group ini bersifat Undangan kepada Peserta Session 1 MFI yang ingin komitmen melanjutkan Materi. *Link Undangan ini berlaku hingga Senin, 20 Maret 2017, Pukul 12.00.* Setelahnya akan terblokir, dan group bersifat tertutup.

¤ Hanya digunakan untuk Informasi atau Diskusi terkait MFI. Tidak diperkenankan memasukkan hal di luar Materi Fiqih atau Informasi Prosedur Kelas.

¤ Pada setiap Senin, akan ada File Materi dari Azatidz terkait tema Pembahasan kelas di Rabu Malam. Setiap peserta dituntut mempelajarinya sebelum hadir di Kelas Rabu Malam.

¤ Pertanyaan terkait Prosedur akan dijawab oleh Admin. Sedang yang terkait Materi akan dijawab oleh Azatidz, baik dengan Tulisan maupun Lisan di Kelas MFI.

¤ Peserta Group, yang tidak hadir di Kelas MFI di As-Salam Rabu Malam, TANPA PEMBERITAHUAN akan langsung dikeluarkan dari Group.

¤ Bagi peserta yang bertahan di Group sampai selesainya kelas di semester ini dan menyelesaikan materi dengan baik, berkesempatan mendapatkan :
a. Sertifikat
b. Tuk mahasiswa Syariah ber-Peluang magang bersama Azatidz RFI

¤ Ketentuan-ketentuan lainnya diatur kemudian hari.

~~~~
MFI terselenggara atas kerjasama :
#RumahFiqihIndonesia #MajelisJam'iyatThullabiah #KammiLipia #LDK_AlFatih #LDK_Hawary #Foski #Formalis

Senin, 20 Februari 2017

Diantara Bab-bab Ilmu Syariah

Ahkam Syariah terbagi menjadi tiga judul besar pembahasan :

A. Hukum-hukum berkenaan Aqidah, inilah yang disebut Ahkam Iktiqodiah.
Pembahasannya dalam Bab Ilmu Kalam atau Tauhid.

B. Hukum-hukum berkenaan Akhlaq. Pembahasannya dalam Bab Ilmu Akhlaq atau Tasawwuf.

C. Hukum-hukum terkait perkataan, perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya atau sesamanya, inilah yang disebut Ahkam Amaliah.
Pembahasannya di Bab Ilmu Fiqih.

Ahkam Amaliah ini dua jenis;
a. Ibadah [hubungan manusia dengan Allah]
b. Adat atau Muamalah [hubungan manusia dengan sesamanya]

Jenis ini terbagi menjadi beberapa bagian :

1. Hukum-hukum yang terkait dengan keluarga dari Pernikahan, Talaq, Nafqah, Nasab dsb.
Saat ini dikenal dengan *Qonun Al-Usrah atau Al-Ahwal As-Syakhshiah*

2. Hukum-hukum yang terkait dengan Hubungan sesama dalam perihal Harta dan Transaksi Muamalat, seperti Jual Beli, Sewa, Gadai, Jaminan dsb.
Saat ini dikenal dengan *Qonun Al-Muamalat atau Al-Qonun Al-Madani*
Diantara hukum yang terkait adalah perihal Perusahaan dan Perniagaan yang dibahas masa sekarang dalam *Al-Qonun At-Tijaari*

3. Hukum-hukum yang terkait dengan Qodo' atau Pengadilan, Tuntutan, Kesaksian, Sumpah dsb.
Saat ini dikenal dengan *Qonun Al-Murofa'at*

4. Hukum-hukum yang terkait dengan pergaulan sesama Warga Negara Islam dari Non Muslim.
Saat ini dikenal dengan *Al-Qonun Ad-Duali Al-Khos*

5. Hukum-hukum yang terkait dengan hubungan Negara Islam dengan Negara lainnya dalam kondisi Damai atau Perang.
Saat ini dikenal dengan *Al-Qonun Ad-Duali Al-A'am*

6. Hukum-hukum yang terkait dengan hubungan Warga Negara dengan Peraturan Negara [Haq dan Kewajiban Warga Negara dalam menjalankan Peraturan bermasyarakat].
Saat ini dikenal dengan *Al-Qonun Ad-Dustuuri*

7. Hukum-hukum yang terkait dengan Sumber Daya Negara dan Pengelolaannya, serta pengaturan kekayaan Negara dan Warganya.
Saat ini dikenal dengan *Al-Qonun Al-Maali*

8. Hukum-hukum yang terkait dengan Perlakuan Negara terhadap warga dalam kasus Pelanggaran Aturan Syariat [Had] atau Aturan Negara dan Kriminalitas lainnya.
Saat ini dikenal dengan *Al-Qonun Al-Jina'i*.

~ Disari dari kitab _Al-Madkhol Li-Dirosaat Asy-Syariah Al-Islamiyah_ , karya Dr. Abdul Karim Zaidan, 1430 H / 2009 M

Rabu, 12 Oktober 2016

Maidah 51, Syiah & Ahok

MAIDAH 51 & SYIAH
Setelah akhirnya beberapa hari ini memfokuskan telaah kitabnya di #Maidah_51 plus melihat perkembangan para Insan Cendikia, ada satu keganjalan.

Poin utama pembahasan belakangan ini adalah tafsir kata "Auliya" atau "Wali" di surah Al-Maidah.

Sebelum Bapak Ahok bermasalah dengan kelancangannya  menafsirkan lalu menyalahkan penafsiran beberapa Ulama, sebenarnya, konflik tafsir kata "wali" ini sudah berlangsung sengit dan sejak lama antara AHLUSSUNNAH & SYIAH [yang hari ini memperingati Kesyahidan Imam Husein yang merupakan "wali" bagi mereka].

IMAM ALI BIN ABI THALIB ADALAH WALI ORANG BERIMAN.
Kalau titik pembahasan Ahok adalah Maidah 51, maka dalam memperdebatkan tafsiran "Wali" , Syiah berangkat dari suatu hadits Shahih;

"Man kuntu Maulahu fa Aliyun Maulah"

Ya. Ali adalah Maula untuk setiap orang yang menjadikan Rasul Maula-nya.

Menurut Syiah, Maula disini bermakna Wali yang menunjukkan Pemimpin.

Sedang menurut Ahlussunnah, Maula dan Wali disini tidak HANYA berarti Pemimpin, tapi juga kekasih, penolong, pelindung dll.

Dan SUBHANALLAH.. Di Fenomena Ahok yang lancang menafsirkan Maidah 51 ini, terlihat keganjalan bagi yang sudah biasa mendiskusikan masalah ini dengan Syiah.

Mayoritas #Ahlussunnah justru disini lebih menekankan makna pemimpin. Walau dengan apik, Azatidz berilmu sudah menjelaskan bahwa memang Wali mengandung makna pemimpin, TAPI juga makna lainnya.

Sedangkan #Syiah yang sebenarnya bisa membalikkan pernyataan Sunni yang melawan Ahok, bahwa mengapa di masalah ahok, "wali" jadi makna pemimpin, sedang di Imam Ali maknanya jadi penolong, kekasih dll.
Tapi para kebanyakan Syiah tidak ada yang menyinggung isu tafsir ke"wali"an ini?? Ajieb. Demi Ahok kah...?  :)

FIQIH POLITIK DAN POLITIK PRAKTIS
Ahlussunnah punya Jawaban sebenarnya, bahwa "wali" mencakup makna luas. Simpelnya begini.

Kasus 1
A : Wahai B jadikanlah C sebagai Wali!
[Karena maknanya luas, maka B menjadikan C sebagai teman karib sudah memenuhi perintah. B menjadikan C sebagai sekutu pelindung maka sudah memenuhi perintah. Menjadikannya pemimpin juga memenuhi perintah, tapi itu pilihan]

Kasus 2
A : Wahai B JANGAN jadikan C sebagai wali [maka larangannya mencakupi semua makna]

Kasus 3
A : Wahai B masuklah kelas ! Dan kamu C jangan masuk kelas!
[B memilih duduk di satu sudut atau satu kursi atau dekat pintu, maka dia sudah patuhi perintah A]
[C dia tidak punya pilihan, dia tidak boleh ada di satupun sudut, sisi, atau kursi dalam kelas]

Ini menurut Ahlusunnah bahwa makna Wali itu beragam, dan Nabi tidak memaksudkan satu makna saja, sebagaimana dipahami Sahabat Nabi saw. Maka Ahlussunnah menjadikan Abu Bakar khalifah pertama dan Ali keempat tak menyalahi perintah. Pun ketika Ahlussunnah memakai larangan wali tuk kafir dalam melawan Ahok juga adalah dalam rangka Nahi Munkar yang dilarang.

Tapi Syiah??? Kenapa tak melawan Ahok dengan kalimat "wali" yang kalian yakini.... :)

Jumat, 07 Oktober 2016

BUBARKAN SAJA NKRI...!


Menjunjung Nilai atau Materi.

Negara kita wujud di atas landasan Nilai yang dijunjung bersama. Andai dibangun di atas materi semata, maka yakin, Belanda & Jepang lebih punya Materi dunia tuk dia tawarkan dibanding para Pahlawan kita.

Pahlawan kita memperjuangkan Nilai. Nilai kemerdekaan, nilai kebhinekaan. Ini yang menyatukan kita dalam satu negara.

KETIKA MATERI SUDAH LEBIH BERHARGA.
Namun hari ini, masyarakat Jakarta atau Indonesia umumnya, lebih melihat kemajuan Negara ini dengan tola ukur Materi. Parahnya, hingga membuat masyarakat, ketika nilai yang dijunjung Negara dicoreng, mereka tetap saja menyanjung pencoreng ini karena tawaran Materinya.

KEBHINEKAAN KITA.
Seorang jawa tidak bisa mengurusi Masalah adat Bugis. Dia tidak perlu bagi-bagi puluhan juta ke Anak Mudanya untuk jadi "Uang Panai". Karena tradisi itu bagi orang bugis punya makna. Keseriusan. Kesiapan. Dan lain-lain yang tidak dipahami pemberi.

Apa lantas seorang Jawa punya Hak komentar bahwa "pemuda bugis dibohongi" pake adat tradisi. Tidak bisa. Inilah kebhinekaan kita.

Lalu, seorang non-Muslim (kafir) tidak perlu berkurban atau berzakat. Karena belum wajib dan tidak akan pernah mencapai semua nilai ibadah ini sampai dia masuk Islam. Dia hanya wajib menahan diri untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga Muslimin. Walau urusan itu sedang diperselisihkan orangtua (ulama) kita di atas. Tapi tetangga ikut komen negatif menyudutkan salah satu orangtua kita, itu lancang namanya, dan tidak menghormati privasi tetangga. Inilah Nilai Kebhinekaan kita yang menyatukan  kita dalam satu negara.

UNTUK MEMIMPIN KEBHINEKAAN INI
Jakarta adalah gambaran dari kemajemukan Indonesia. Bila kita ingin negara kita masih jalan, maka urgen pemimpin yang paham kebhinekaan itu. Kecuali bila kita hanya ingin Jakarta menjadi Kota Materalisme tanpa nilai kebhinekaan. Yang tentu perlu ganti Generasi untuk itu. Karena generasi Jakarta harusnya masih memegang teguh Nilai-nilai ke-indonesia-an.

Kecuali kalau memang generasi kita saat ini sudah tidak paham nilai-nilai ini?! Maka Bubarkan saja NKRI.

ISLAM & POLITIK
Politik adalah bagian dari Islam. Di ratusan jilid Kitab itu tercantum ajaran politik Islam. Mendakwahkan cara berpolitik kepada Umat-nya adalah Ibadah & Keyakinan bagi para Dai dan Ulama. Dan ini sah serta dilindungi Undang-undang, bagi setiap pemeluk agama untuk menjalankan Agama-nya masing-masing.

Sama seperti ketika Ulama memfatwakan Haramnya Riba Bank, Haramnya Bir. Menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an. Semua fatwa Ulama itu merugikan Bank, merugikan pengusaha Bir.
Tapi apa ada Bank dan Pengusaha yang LANCANG mengatakan bahwa Ulama membohongi Muslimin Indonesia pake ayat ini itu.

Tidak ada!.. inilah kebhinekaan yang Ulama, Pemilik Bank, Penjual Bir Pahami.

Lantas ketika ada politikus, ketika Karir Politik dia terancam karena Dakwah Ulama (walau ada sedikit beda pendapat yg jadi urusan rumah tangga Islam), Pantaskah dia mengatakan, Para Ulama itu membohongi dan membodohi umatnya pake Al-Maidah ayat 51?!

Kalau memang Rakyat kita sudah tidak acuh lagi dengan hal besar yang menodai dan mencoreng Kebhinekaan kita ini, karena silau materi, maka.. BUBAR SAJA NKRI.?!

Allahu Musta'an.

Kamis, 06 Oktober 2016

Islam adalah Kepercayaan

Bohongkah Al-Maidah Ayat 51???

Apakah surah Al-Maidah Ayat 51 bagi anda adalah hasil pikiran seorang jenius? Atau hasil penelitian indrawi mendalam?

BUKAN.

Al-Maidah ayat 51 dan seluruh Al-Qur'an serta Hadits tak lain hanyalah Kabar Berita yang kita dengar dan dapatkan dari seorang Guru atau Orangtua. Kita tidak melihat Allah atau Rasul mengatakannya. Dan tidak pula ada zaman ini Doktor atau Professer Muslim yang bisa meneliti secara indrawi kebenaran bahwa suatu ayat betul disampaikan Jibril. Karena Al-Qur'an dan Hadits itu riwayat alias seperti cerita dongeng.

Lalu apakah Al-Maidah Ayat 51 bohong? Karena berita itu punya kemungkinan benar dan punya kemungkinan bohong.!!!

Lantas Bagaimana saya meyakini bahwa saya Tidak Dibohongi dan Tidak Dibodoh-bodohi oleh Ayat 51 Al-Maidah ini??? Apakah betul itu dari Allah atau dari Rasul?!!

QUR'AN BENAR DARI RASULULLAH SAW.

Pembahasan awal adalah benarkah Rasul pernah mengajarkan Al-Maidah ayat 51 ini?

Pertama,
Jawabannya adalah dengan melihat metode tersampainya Al-Maidah kepada kita. Sampainya dengan status MUTAWATIR.

Apa maksudnya Mutawatir?
Yaitu Kita dapat menemukan Jutaan Penghafal di zaman ini menyaksikan dari hafalan Qur'an 30 Juz guru masing-masing yang pasti juga berjumlah jutaan, yang tidak pernah bertemu dan juga gurunya guru itu dan seterusnya.

Wal hasil Hafalan Qur'an Jutaan yang tidak pernah bertemu,  dan gurunya juga tidak pernah bertemu, dan gurunya guru itu dst juga tidak, SAMA PERSIS. Tanpa perbedaan satu huruf pun.

Maka jelas, Al-Maidah ayat 51 tidak seperti Injil, Taurat, cerita dongeng yang terus mengalami perubahan hingga berbeda versi di tiap2 tempat.

Kedua,
Jawabannya lagi adalah Mukjizat Science yang ada pada Al-Qur'an dan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan hari ini.
Hingga tidak mungkin Al-Qur'an adalah hasil cerita manusia-manusia di 4-5 Abad yang lalu.

Oleh karena itu kita Percaya bahwa saya tidak dibohongi oleh orangtua saya atau oleh kyai saya...
Dan ini bukan sekedar percaya. TAPI INI ADALAH IMAN.

QUR'AN BENAR DARI ALLAH.

Ok. Kita percaya Qur'an yang kita baca hari ini, adalah persis seperti Qur'an yang diajarkan Nabi Muhammad saw. 14 Abad lebih lalu.
Al-Maidah ayat 51 hari ini, itulah yang diajarkan Nabi Muhammad dulu. Persis hingga ke huruf-hurufnya dan suara bacaannya.

Tapi, Bagaimana saya percaya dan beriman bahwa yang diajarkan Nabi Muhammad adalah benar dari Allah swt???

Pertama, adalah Fitrah.

Kedua, adalah Akal yang menemukan Mukjizat Al-Qur'an pada Science hari ini, Peradaban Ilahiah yang sempurna, Kabar Al-Qur'an akan masa lalu dan mendatang yang sudah terbukti.

Ketiga, adalah Kemutawatiran Al-Qur'an yang logika juga pasti akan tunduk dengan kenyataan penjagaan Al-Qur'an hari ini.

ALLAH , RASUL-NYA DAN KITAB-NYA TIDAK MUNGKIN BOHONG DENGAN SATU HURUF PUN.

Inilah Konsekwensi Iman kepada Allah swt, Iman kepada Kitab-Nya dan Iman kepada Rasul-Nya.

Mengatakan ada satu huruf dalam Al-Qur'an yang bohong membatalkan Kepercayaan alias Keimanan Kepada Allah dan Rasul.

Mengatakan Surah Al-Maidah bohong, SAMA dengan mengatakan Rasul Bohong, SAMA dengan mengatakan Allah Bohong.

Naudzu Billah.

===
Tapi, bila perkataan itu mengandung makna yang hakekatnya adalah

"orang yang menjelaskan Al-Maidah ayat 51 ini bohong dalam penjelasannya"

Bila yang mengatakannya adalah orang kafir yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad  saw, maka itu sebuah KELANCANGAN atau KELUCUAN.
Apa urusan seorang yang mendustakan sebuah ayat lalu ikut campur mengatakan bahwa yang menjelaskannya Bohong.

LALU APA ORANG KAFIR YANG JUJUR DALAM MENJELASKAN AYAT 51 AL-MAIDAH INI???

#sara_teriak_sara

Selasa, 04 Oktober 2016

TAKKAN ZUHUD TANPA FIQIH

وعن محمد بن الحسن الشيباني رحمه الله تعالى لما قيل له: ألا تصنف كتابا في الزهد؟ قال:
"قد صنفت كتاباً في البيوع"

Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, "Syaikhoin" kedua setelah Abu Hanifah dan salah satu "Shohibain" bersama Abu Yusuf dalam Madzhab Hanafi.

Sosok yang disebut oleh Imam Ahmad saat ditanya; "darimana engkau dapat pembahasan detail-detail poin fiqih ini?", "Dari kitab-kitab susunan Muhammad bin Hasan" jawab imam Ahmad.

Sosok ini pernah diminta, untuk menyempatkan menulis selain masalah fiqih. Yang lebih penting menurut sebagian orang. Zuhud misalnya.

"Kenapa g nulis kitab Zuhud juga Syeikh?" Celoteh seorang yang mungkin belum paham kedudukan fiqih :).

Disini sang Syeikhul Madzhab memberi jawaban singkat tapi menunjukkan tingginya kealiman beliau.

"Saya udah nulis Kitab Fiqih Jual Beli (mualamat)"

Sekilas mereka yang tidak mengenal urgensi fiqih, mungkin akan menyahut,

"Apa hubungannya Syeikh :( belajar zuhud dengan belajar fiqih?"

Bukankah fiqih adalah penjelas Halal dan Haram?
Bukankah fiqih adalah penjelas wajib dan Haram? Makruh dan Sunnah?

Maka bukankah bagian terpenting zuhud itu meninggalkan perkara haram dan makruh serta Syubhat? Yang mana itu membahayakan Akhirat seseorang..

Oleh karenanya, Zuhud bukanlah sekedar untuk diceramahkan atau ditangisi tapi Pembagian Waris keluarga, Transaksinya dan Perniagaan tidak dikawal Fiqih, alias tidak peduli mana haram, syubhat dan makruhnya.

Zuhud butuh ilmu. Salah satu yang terbesarnya adalah Ilmu Fiqih.

Senin, 26 September 2016

Muqoddimah Islam

كل هذا منوط بالعقل، أن تؤمن أن لهذا الكون خالقا عليما حكيما رحيما لطيفا من خلال خلقه، وأن تؤمن أنه لم يدَع خلقه من دون تبليغ، فوصَّل لهم القول،

وقد أكد وشهد لهم أن هذا كلامه من خلال إعجازه،

ثم إن هذا الذي جاء بهذا الكتاب هو رسوله،

انتهى دور العقل،

بعد القرآن جاء دور النقل،

الآن قد يعجز عقلك عن إدراك حقيقة جاء بها القرآن، أخبرك عن الماضي السحيق والمستقبل البعيد، وعن تاريخ الأمم والشعوب، وعن منهجك التفصيلي، افعل ولا تفعل،

هذه المنظومة 》
¤ الله تؤمن به من خلال خلقه،
¤ وكتباه من خلال إعجازه،
¤ و رسول من خلال كتابه،

》ثم يخبرك الله عز وجل عن كل الحقائق، بل الشيء الذي يعجز عقلك عن إدراكه أخبرك الله به، هذه ثوابت المؤمن.

》 الآن إذا قضية إخبارية أخضعها للبحث فهو غير مؤمن،

》أنت بعد أن آمنت
¤ أن الله عز وجل خالق السماوات والأرض، وبعد أن آمنت
¤ أن هذا القرآن كلامه،
¤ وأن الذي جاء به رسوله،
دورك دور التلقي وليس دورا أن تتحكم في النقل، أو أن تخضعه لموازين الأرض، أنت الآن تتلقى عن الله، هذا المنهج منهج علمي،

》 وحينما تقسم الموضوعات إلى
¤ موضوعات حسية تعرفها بحواسك،
¤ وموضوعات عقلية تعرفها بعقلك،
¤ وموضوعات كبيرة جدا إخبارية، تعرفها من خلال الخبر الصادق، أي لن تستطيع أن تأتي بجديد أن هناك جنًّا، إلا أن الله أخبرنا بهذا، ليس عندك دليل قطعي على أن هناك حوضا يوم القيامة، يسقى منه المؤمنون، إلا أن الله أخبرنا بذلك، والنبي أخبرنا، شكل منظومة ؛ قضايا حسية، وقضايا عقلية، وقضايا إخبارية، هذا من قوله تعالى:
﴿ وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلاً قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ (43)﴾

Muqoddimah Islam

كل هذا منوط بالعقل، أن تؤمن أن لهذا الكون خالقا عليما حكيما رحيما لطيفا من خلال خلقه، وأن تؤمن أنه لم يدَع خلقه من دون تبليغ، فوصَّل لهم القول،

وقد أكد وشهد لهم أن هذا كلامه من خلال إعجازه،

ثم إن هذا الذي جاء بهذا الكتاب هو رسوله،

انتهى دور العقل،

بعد القرآن جاء دور النقل،

الآن قد يعجز عقلك عن إدراك حقيقة جاء بها القرآن، أخبرك عن الماضي السحيق والمستقبل البعيد، وعن تاريخ الأمم والشعوب، وعن منهجك التفصيلي، افعل ولا تفعل،

هذه المنظومة 》
¤ الله تؤمن به من خلال خلقه،
¤ وكتباه من خلال إعجازه،
¤ و رسول من خلال كتابه،

》ثم يخبرك الله عز وجل عن كل الحقائق، بل الشيء الذي يعجز عقلك عن إدراكه أخبرك الله به، هذه ثوابت المؤمن.

》 الآن إذا قضية إخبارية أخضعها للبحث فهو غير مؤمن،

》أنت بعد أن آمنت
¤ أن الله عز وجل خالق السماوات والأرض، وبعد أن آمنت
¤ أن هذا القرآن كلامه،
¤ وأن الذي جاء به رسوله،
دورك دور التلقي وليس دورا أن تتحكم في النقل، أو أن تخضعه لموازين الأرض، أنت الآن تتلقى عن الله، هذا المنهج منهج علمي،

》 وحينما تقسم الموضوعات إلى
¤ موضوعات حسية تعرفها بحواسك،
¤ وموضوعات عقلية تعرفها بعقلك،
¤ وموضوعات كبيرة جدا إخبارية، تعرفها من خلال الخبر الصادق، أي لن تستطيع أن تأتي بجديد أن هناك جنًّا، إلا أن الله أخبرنا بهذا، ليس عندك دليل قطعي على أن هناك حوضا يوم القيامة، يسقى منه المؤمنون، إلا أن الله أخبرنا بذلك، والنبي أخبرنا، شكل منظومة ؛ قضايا حسية، وقضايا عقلية، وقضايا إخبارية، هذا من قوله تعالى:
﴿ وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلاً قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ (43)﴾

Muqoddimah Islam

كل هذا منوط بالعقل، أن تؤمن أن لهذا الكون خالقا عليما حكيما رحيما لطيفا من خلال خلقه، وأن تؤمن أنه لم يدَع خلقه من دون تبليغ، فوصَّل لهم القول،

وقد أكد وشهد لهم أن هذا كلامه من خلال إعجازه،

ثم إن هذا الذي جاء بهذا الكتاب هو رسوله،

انتهى دور العقل،

بعد القرآن جاء دور النقل،

الآن قد يعجز عقلك عن إدراك حقيقة جاء بها القرآن، أخبرك عن الماضي السحيق والمستقبل البعيد، وعن تاريخ الأمم والشعوب، وعن منهجك التفصيلي، افعل ولا تفعل،

هذه المنظومة 》
¤ الله تؤمن به من خلال خلقه،
¤ وكتباه من خلال إعجازه،
¤ و رسول من خلال كتابه،

》ثم يخبرك الله عز وجل عن كل الحقائق، بل الشيء الذي يعجز عقلك عن إدراكه أخبرك الله به، هذه ثوابت المؤمن.

》 الآن إذا قضية إخبارية أخضعها للبحث فهو غير مؤمن،

》أنت بعد أن آمنت
¤ أن الله عز وجل خالق السماوات والأرض، وبعد أن آمنت
¤ أن هذا القرآن كلامه،
¤ وأن الذي جاء به رسوله،
دورك دور التلقي وليس دورا أن تتحكم في النقل، أو أن تخضعه لموازين الأرض، أنت الآن تتلقى عن الله، هذا المنهج منهج علمي،

》 وحينما تقسم الموضوعات إلى
¤ موضوعات حسية تعرفها بحواسك،
¤ وموضوعات عقلية تعرفها بعقلك،
¤ وموضوعات كبيرة جدا إخبارية، تعرفها من خلال الخبر الصادق، أي لن تستطيع أن تأتي بجديد أن هناك جنًّا، إلا أن الله أخبرنا بهذا، ليس عندك دليل قطعي على أن هناك حوضا يوم القيامة، يسقى منه المؤمنون، إلا أن الله أخبرنا بذلك، والنبي أخبرنا، شكل منظومة ؛ قضايا حسية، وقضايا عقلية، وقضايا إخبارية، هذا من قوله تعالى:
﴿ وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلاً قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ (43)﴾

Kamis, 01 September 2016

NIKMAT DAN DERITA EKSKLUSIF


Cara Allah swt, agar seorang Hamba menikmati Nikmat, atau agar hamba menderitai Derita

{... فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].

“ ... Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

Agar Nikmat itu lebih terasa Allah beri muqoddimah derita yang mungkin panjang... lalu ia diberi paket besar nikmat sekaligus.

Agar Derita itu lebih menyiksa, Allah beri nikmat panjang... lalu ia diberi paket besar kerugian sekaligus.

MENTAL MUTHAFFIF [Penghalang Revolusi Akhlaq]

Hubungan Manusia dengan sesama adalah bersifat timbal balik. Bahkan dalam hubungannya dengan Alam Semesta dan terlebih Pencipta serta Pengaturnya.

Islam pada dasarnya menyeru kepada Keadilan. Adil terhadap siapapun dan apapun itu. Tidak terkecuali kepada diri sendiri.

Walau sebenarnya seruan Islam tidak berhenti pada sekedar Adil, tapi juga sampai ke derajat sifat Ihsaan. Sifat yang secara sempurna Allah swt ajarkan melalui sifat-sifat Ketuhanan-Nya.

Tapi in sya Allah, kita membatasi bahasan pada tema ini seputar adil.

Islam memberi gambaran keadilan dari banyak sudut pandang dan dasar ayat maupun hadits. Salah satunya yang menjadi sudut bahasan kita kali ini adalah ayat tentang Mental Muthaffifin.

Mental Muthoffifin ini dicela habis-habisan oleh Allah swt dalam ayat-Nya yang berbunyi : "Celakalah Para Muthoffifin itu".

Walau secara bahasa kata "Wail" yang digunakan bahasa Arab untuk mengungkapkan kata umpatan "Celaka", tapi secara tafsiran sebagian ulama dalam ayat lain memaknai "wail" disini sebagai salah satu nama Neraka.

Lalu bagaimana dan siapa atau apa itu Muthoffifin?

"Yaitu mereka yang apabila ditimbang barangnya (ditunaikan hak-nya) oleh orang lain, pasti meminta penyempurnaan"

Satu sisi gambaran sifat ini tidak ada yang masalah sebenarnya. Yang menjadi masalah adalah sisi kedua.

"(Namun) dan apabila mereka yang menimbang barang (menunaikan hak) orang lain, mereka mengurangi (tidak menyempurnakan bahkan tak peduli pada kerugian orang tersebut)"

Dengan akal sehat dan rasa kemanusiaan yang adil, kita pasti akan secara langsung menyimpulkan bahwa Mental Muthafifin ini adalah sifat yang negatif.

Demikianlah Al-Qur'an dan Islam ini memberikan Revolusi Akhlaq kepada Manusia dan khususnya pada pemeluknya.

Bahwa manusia, bahkan semua pihak dalam hubungannya dengan sesama punya konsekwensi timbal balik. Kapan seseorang punya sekian haq, maka dibalik hak itu ada kewajiban yang serupa. Dan kapan kita menuntut sebuah kewajiban dari pihak lain, maka tentu, sebesar kewajiban itu, sebesar itulah hak yang dimilikinya.

Muthofifin memandang bahwa hanya dirinyalah yang pantas untuk mendapatkan hak-nya dengan sempurna, sedangkan pihak lain harus memahami ketidakmampuan si muthoffif dalam menunaikan hak orang lain. Dan noted bahwa menunaikan hak orang lain yang ada pada tanggungjawab kita adalah kewajiban.

Islam, hakikatnya adalah ajaran keadilan. Adil tidak hanya pada hal normatif, tapi benar-benar pada segala hal. Adil dalam artian, menjelaskan Hak dan Kewajiban dibalik hak itu. Lalu, memberi aturan yang mengatur keseimbangan hak dan kewajiban ini. Bahkan Islam tidak hanya memberi aturan yang bersifat duniawi, tapi sampai kepada bahwa konsekwensi dari hak dan kewajiban itu akan sampai perkaranya ke akhirat.

Keutuhan ajaran Islam dalam menerapkan Hak dan kewajiban ini tercermin dari semua detail aturannya. Dari hak Manusia dalam mengelola Alam semesta yang diantaranya Hewan yang halal dikonsumsi, dibalik hak itu, manusia dalam aturan Islam punya kewajiban mengelola tanpa menyakiti dan tanpa merusak.

Lalu dalam tatanan sosial, Islam mengatur bahwa Suami punya Hak ditaati oleh istri, tapi dibalik hak itu, ada kewajiban besar suami untuk menafkahi dan membimbing Istri. Non-Muslim dalam tatanan Masyarakat Islam, punya hak hidup hingga menjadi maksum (terjaga) keselamatan nyawa dan hartanya dari gangguan kaum muslimin, tapi dibalik hak itu ada kewajibannya untuk menjaga kesepakatan dan tidak memusuhi dakwah Islam.

Terjadinya kerancuan sistem dalam tatanan sosial atau pemikiran kaum muslimin hari ini, salah satu sebab besarnya adalah ketimpangan dalam memandang Hak dan Kewajiban ini. Hingga terciptalah dua kubu ekstrem yang tidak diharapkan.

Ada pihak yang sibuk membela hak suami, tapi tidak memperhatikan kewajibannya. Di sisi lain, ada yang sibuk membela hak Istri, tapi menutup mata pada kewajibannya.

Ada pihak yang sibuk membela Hak-hak Non Muslim dalam tatanan Masyarakat. Tapi tak acuh, bahwa disana juga ada kewajiban yang harus dituntut darinya. Di sisi lain, sibuk menuntut kewajiban non muslim, tapi tidak pedulikan bahwa mereka punya hak-hak tertentu.

Di akhir bahasan ini, kita sejenak mengambil Kaidah Mental Muthaffif ini dan menerapkannya pada hubungan antara Hamba dan Tuhannya. Bahwa Islam datang untuk menjelaskan sekaligus menerapkan Haq dan Kewajiban diantara keduanya.

Allah swt mewajibkan diri-Nya untuk memelihara dan memberi manusia kehidupannya, maka Allah swt punya Hak ketuhanan, hak untuk disyukuri. Sedalam apa seorang hamba mengetahui kebaikan dan kehebatan Allah swt, maka semakin ia menyadari bahwa kewajiban dia pada ketuhanan Allah swt tidak akan mampu ia penuhi dengan sempurna.

Saat kita menyadari itu, sebenarnya kita tidak pantas membahas hak kita yang mesti ditunaikan Allah swt.

Tapi sebagai penutup, Manusia atau Hamba yang bermental muthaffif adalah Hamba yang sibuk mencari Hak hidupnya di alam semesta, tapi tidak peduli dan tidak berusaha untuk menunaikan kewajibannya dengan sesempurna yang ia usahakan.

المطفف هو الذي في طلب حقه شديد... و في أداء واجبه المقابل لذلك الحق متهاون

Kamis, 18 Agustus 2016

Wajah Tegar Suriah dan Kerapuhan Penguasa

Engkau dapat memahami seutuhnya tentang Suriah hari ini dari wajah Anak ini....

Dari anak yang mewakili jiwa-jiwa tak berdosa yang menjadi korban...
Tatapan kosong...
Tak tahu apa yang terjadi, kenapa mereka yang disasar...

Mulut bungkam yang lelah...
Lelah meneriakkan permintaan tolong..
Pada hati-hati yang kebanyakan Tuli...

Engkau lihat Debu reruntuhan yang memenuhi tubuhnya? Itu adalah yang tersisa dari tempat tinggal, sekolah & rumah sakit mereka...

Darah yang terus mengalir, tak lagi dibarengi Air Mata...
Karena mungkin tak ada lagi yang harus ditangisi oleh kesendiriannya...

Ataukah ini adalah ketenangan akan dekatnya kemenangan..

Sementara para penjahat Politik dan Perang itu dalam gemetar takut...
Hingga tangan mereka lemas dan tak mampu memegang senjata dengan becus...

Malulah pada dunia & Negara-mu, Wahai para penjahat kekuasaan...

Serapuh apa kekuatanmu hingga harus anak ini menjadi korban...?

Tafsir Surah Maryam ayat 71-72

Allah swt berfirman :

و إن منكم إلا واردها كان على ربك حتما مقضيا * ثم ننجي الذين اتقوا و نذر الظالمين فيها جثيا *

Ada dua pendapat mengenai Tafsiran Makna Wurud dalam ayat.

Pertama; Artinya adalah memasuki ke dalam Neraka. Hingga makna ayat adalah setiap manusia, yang mukmin atau kafir, akan memasuki Neraka.
Namun, lanjutan ayat menegaskan bahwa, neraka itu akan menjadi seperti Api yang membakar Ibrahim bagi orang Mukmin. Yaitu dingin sejuk menyelamatkan.

Kedua; artinya adalah lewat diatas neraka melalui Shirath atau melihatnya langsung saat penghisaban.
Hingga pendapat kedua ini menolak bahwa orang beriman akan memasuki neraka.
Walaupun keduanya sepakat bahwa mereka akan selamat dari Api Neraka ini sebagaimana ditegaskan ayat setelahnya.

Rabu, 24 September 2014

ISI FORMULIR DATA ALUMNI 2008

Alumni 2008 Darul Huffadh

Nama Lengkap
Tempat Lahir
Tanggal Lahir

MM
/
DD
/
YYYY
Jenis Kelamin
 Putra 
 Putri 
Asal
Domisili Sekarang
Pekerjaan/ Kampus
Tahun Masuk
Tahun Keluar
Masa Pengabdian
 1 Tahun 
 2 Tahun 
 mengabdi di luar pondok 
 lebih dari 2 tahun 
 tidak mengabdi 
Email
No Handphone
No WhatsApp

Selasa, 27 Mei 2014

Inspirasi Hidup dalam Perjuangan dengan Pengorbanan



Allah tidak mengirim petir untuk membuka pintu penjara untuk mengeluarkan Nabi Yusuf dari penjara, tidak juga memerintahkan dinding untuk hancur...

tapi Allah mengirim mimpi pada keheningan malam kepada Sang Raja yang memenjarakan Nabi Yusuf saat ia tidur... 

dan dari keheningan itulah, Allah membebaskan Nabi yusuf dari penjara... Allahu akbar...
---------------------
untuk setiap orang yang terpenjara akan permasalahan hidupnya...
*****************

besar kecil pengorbanan bukan diukur dari apa yg dikorbankan, tapi demi apa kita berkorban...
bila demi syahwat diri, popularitas, status atau duniawi lainnya, maka pengorbanan itu bagaimana pun wahx di mata makhluq, tapi hakekatx tak lebih dari bangkai kambing cacat...
tapi, apapun yg kita kobarkan, bila tuk Allah dan sunnah serta agama islam ini, lalu sesuai dgn aturan syariat, maka ia sungguh hakekatx jauh lebih dari kerja keras para hamba nafsu sendiri... agama ini Allah menangkn dgn ilmu dan ketaatan kaum muslimin yg bersih dari syubhat dan syahwat.... bukan dgn ambisi yg terkotori syubhat atau syahwat....

BELAJAR BERSIKAP SAAT BERBEDA DENGAN ULAMA KITA...


#Umar_bin_Khattab
Sikap kerasx krn ghiroh n sentimen agama, trkadang harus brbenturn dgn sikap politik Nabi saw

#Marah_diterimax_perjanjian_hudaibiyah_yg_menjatuhkan_Islam
#Marah_saat_otakx_munafiq_ibnuUbay_dibiarkan
#Marah_saat_abuSufyan_diterima_dgn_hormat_di_tenda_Rasul_saat_fathulMakkah

Umar tidak melihat apa yg dilihat oleh Nabi saw.
Marah, tapi Umar tau kewajiban Sam'an wa Tho'ah.
Marah, tp akhirx Umar mnyesali seumur hidup sikapx itu.

Walau jauh, tp Ulama qt punya haq disikapi sprt itu.